Akademisi: Waspada Ruang Digital, Bisa Jadi Arena Produksi Kekerasan

Jakarta (INITOGEL) — Ruang digital kerap dipandang sebagai tempat bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan menumbuhkan kreativitas. Namun di balik layar yang menyala terang, ada sisi lain yang perlahan mengemuka. Sejumlah akademisi mengingatkan, ruang digital kini berpotensi menjadi arena produksi kekerasan, baik secara verbal, psikologis, maupun sosial.

Kekerasan itu tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Ia menjelma sebagai ujaran kebencian, perundungan daring, pelabelan identitas, hingga serangan terkoordinasi yang menargetkan individu atau kelompok tertentu. Dan sering kali, semua itu terjadi tanpa disadari sebagai bentuk kekerasan.

Kekerasan yang Tidak Selalu Terlihat

Menurut kalangan akademisi, kekerasan di ruang digital bersifat subtil namun berdampak panjang. Kalimat yang tampak “sekadar opini” bisa berubah menjadi tekanan psikologis ketika disebarkan berulang kali. Komentar bernada sarkas, meme yang merendahkan, atau narasi yang menggiring kebencian dapat membentuk iklim yang tidak aman.

“Ruang digital bukan ruang netral,” ujar seorang akademisi komunikasi. “Ia dibentuk oleh algoritma, relasi kuasa, dan emosi kolektif. Di situlah kekerasan bisa diproduksi, direproduksi, lalu dinormalisasi.”

Dalam banyak kasus, korban tidak hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga kepercayaan diri, reputasi, bahkan kesempatan sosial dan profesional.

Algoritma dan Emosi Massa

Salah satu faktor utama yang disorot adalah algoritma platform digital. Konten yang memicu emosi kuat—amarah, ketakutan, atau kebencian—cenderung lebih cepat menyebar. Akibatnya, narasi agresif sering kali mendapat ruang lebih besar dibandingkan diskusi yang tenang dan berbasis data.

Akademisi menilai kondisi ini menciptakan lingkaran berbahaya: semakin keras sebuah pesan, semakin besar peluangnya untuk viral. Dalam jangka panjang, pola ini membentuk budaya digital yang permisif terhadap kekerasan simbolik.

“Kita tidak lagi sekadar berinteraksi, tapi berlomba mendapatkan perhatian,” kata seorang peneliti media. “Dan sayangnya, konflik sering kali lebih menarik perhatian dibanding empati.”

Dampak Nyata di Kehidupan Nyata

Meski terjadi di dunia maya, dampaknya nyata. Banyak individu mengalami stres, kecemasan, hingga menarik diri dari ruang publik akibat serangan digital. Dalam konteks yang lebih luas, polarisasi sosial menguat, dialog melemah, dan kepercayaan antarkelompok terkikis.

Di kalangan anak muda, efeknya bahkan lebih mengkhawatirkan. Paparan terus-menerus terhadap kekerasan verbal dan narasi permusuhan dapat membentuk cara pandang mereka terhadap perbedaan dan konflik.

“Generasi muda tumbuh dalam ekosistem digital,” ujar seorang akademisi pendidikan. “Jika ekosistem itu penuh kekerasan simbolik, maka nilai yang mereka serap pun ikut terdistorsi.”

Literasi Digital sebagai Benteng

Para akademisi sepakat, literasi digital menjadi kunci utama untuk meredam produksi kekerasan di ruang digital. Literasi tidak hanya soal kemampuan teknis menggunakan gawai, tetapi juga kesadaran etis: memahami dampak kata-kata, mengenali manipulasi informasi, dan berani berhenti sebelum ikut menyebarkan kebencian.

Selain itu, tanggung jawab tidak bisa dibebankan pada individu semata. Platform digital, lembaga pendidikan, komunitas, dan negara memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman dan inklusif.

“Kita perlu memulihkan ruang digital sebagai ruang dialog,” tegas seorang akademisi sosiologi. “Bukan arena adu serang.”

Menjaga Kemanusiaan di Dunia Maya

Di tengah derasnya arus informasi, peringatan para akademisi ini menjadi ajakan untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Ruang digital adalah perpanjangan dari ruang sosial kita. Cara kita berbicara, bereaksi, dan berbagi di sana mencerminkan nilai yang kita bawa sebagai masyarakat.

Waspada bukan berarti takut, tetapi sadar. Sadar bahwa setiap unggahan memiliki dampak. Sadar bahwa di balik layar, ada manusia lain yang merasakan.

Jika ruang digital adalah tempat kita bertemu, maka menjaganya tetap aman adalah tanggung jawab bersama—agar ia tidak berubah menjadi arena produksi kekerasan, melainkan ruang tumbuh bagi empati dan kemanusiaan.